Bulan Selepas Senja

Langit senja turut mengantarkan kepergiannya hari itu. Tubuh mungilnya tampak sedikit tenggelam dalam jaket yang ia kenakan.

“Makasih ya Wan” ucap gadis itu sembari memasang capuchon di kepalanya

“Untuk apa?”

“Udah bersedia jadi sopir pribadi. hehehe” ia terkekeh

Apa yang enggak aku lakukan buat kamu, Bulan. balasku dalam hati. ternyata rasaku padanya tak berubah.

“Nggak percaya rasanya bisa ketemu kamu lagi, Wan”

“Lebay” balasku asal. Padahal, aku juga tidak menyangka bisa bertemu lagi dengannya. Setelah empat tahun ia kembali ke kampung halamannya di Jakarta.

“Ngomong-ngomong, pacarmu nggak nyariin nih?” tanyanya jahil

“Apaan sih. Aku nggak punya pacar”

“Masa?”

“Lah kamu sendiri, udah umur segini bukannya nikah” balasku tak mau kalah

Matanya tiba-tiba menerawang.

“Membuka hati nggak semudah itu Wan” jawab Bulan lirih

“Tanpa kita sadari, banyak hal dalam hidup yang terlihat begitu sederhana. Namun ternyata begitu rumit dan sulit untuk kita pahami ataupun percayai. Salah satunya adalah cinta” lanjutnya sambil menoleh ke arahku dan memasang tas ransel di punggungnya

“Maksudmu, kamu nggak percaya cinta?”

Ia menghela nafas

“Bukan nggak percaya, tapi mungkin belum percaya dan belum siap membuka hatiku untuk itu”

Sebuah senyuman manis terukir di wajahnya. Meski apa yang ia katakan layaknya jawaban pahit atas segala pertanyaan dan rasaku untuknya selama ini.

Tak lama kemudian terdengar pengumuman bahwa kereta yang  membawanya pulang akan segera tiba.

“Pulang dulu ya Wan” ia melambaikan tangannya dan beranjak pergi

Saat itu juga perasaanku jadi lebih lega. Diam-diam aku berdoa agar suatu saat bisa membuatnya percaya.

Serba Serbi Pekerjaan : 5 Tools Yang Jadi Sahabat Staf Akuntansi & Keuangan

Jaman sekarang, terdapat banyak pilihan pekerjaan dan profesi yang bisa ditekuni. Mulai dari yang konvensional seperti dokter, guru, akuntan, hingga yang unik dan kekinian seperti content writer, vlogger, atau influencer. Pekerjaan bahkan tidak lagi identik dengan berangkat ke kantor di pagi buta dan pulang ke rumah saat malam tiba. Bahkan, ada pekerjaan yang bahkan bisa dilakukan sambil tiduran di kamar. Seperti kata pepatah, nobodys perfect. Begitupun dengan profesi atau pekerjaan, tidak ada pekerjaan yang sempurna. Setiap pekerjaan tersebut tentunya memiliki konsekuensi, risiko beserta kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Salah satu hal yang dipertimbangkan dalam memilih pekerjaan adalah jurusan yang diambil saat kuliah. Masyarakat cenderung untuk melamar pekerjaan yang sesuai atau berkaitan dengan jurusan yang mereka ambil di perguruan tinggi. Pemahaman dan pengetahuan yang relevan dengan suatu jabatan tentunya akan membantu proses adaptasi sehingga lebih cepat dan efisien.  Meski tidak sedikit pula yang menjalani profesi atau pekerjaan yang tidak berkaitan langsung dengan gelar akademik yang didapatkan setelah lulus kuliah. Saya sendiri saat ini memilih untuk menggeluti profesi atau pekerjaan yang sesuai dengan jurusan saya semasa kuliah, yaitu Akuntansi dan Keuangan

 

Ingin mengaplikasikan ilmu yang saya pelajari semasa kuliah ke dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut yang mendasari saya dalam memilih pekerjaan di bidang Akuntansi dan Keuangan. 4 bulan setelah lulus kuliah, saya diterima menjadi Staf Akuntansi dan Keuangan di sebuah perusahaan swasta berskala menengah. Jadilah titel “pegawai kantoran” secara tidak resmi melekat di dalam diri.  Ya, sebagian besar tugas dan tanggung jawab sebagai staf keuangan mengharuskan para pelaksananya untuk bekerja di kantor dengan jadwal yang mengikat, alias tidak bisa dieksekusi di luar ruangan kantor. Konsekuensinya, saya harus mengikuti jadwal masuk dan pulang kantor yang sifatnya semi permanen dan terstruktur setiap harinya.

 

Selama ini, Staf Akuntansi dan Keuangan identik dengan angka dan uang. Staf Akuntansi bertugas untuk mencatat semua transaksi keuangan secara tepat dan akurat. Catatan transaksi tersebut kemudian diolah dan disusun menjadi suatu laporan keuangan Laporan keuangan ini nantinya akan digunakan oleh pihak manajemen untuk proses pengambilan keputusan. Jika ada kesalahan dalam penyusunan laporan, tentu akan mengurangi manfaat dari informasi keuangan tersebut.  Seorang Staf Akuntansi dan Keuangan dituntut untuk teliti, stick to the rules, dan memiliki kemampuan analisis yang baik. Tidak hanya itu, kami juga diharapkan untuk cakap dalam menggunakan perangkat keras, perangkat lunak, maupun fasilitas lain yang disediakan oleh pihak kantor untuk menunjang kinerja.

 

Nah, selain laptop atau PC, apa saja sih tools yang nyaris selalu ada di meja kerja/kubikel seorang Staf Akuntansi dan Keuangan?

 

  1. Kalkulator

Alat hitung yang satu ini memang jadi semacam senjata yang wajib ada di meja kerja. Saat laptop atau PC sedang tidak bisa diandalkan, kalkulator lah yang jadi penyelamatnya. Nggak peduli jenisnya—entah itu scientific calculator atau kalkulator dagang kayak di pasar—kalkulator harus kita miliki.

Kalkulator

 

 

  1. Microsoft Excel

Staf Akuntansi dan Keuangan pasti sudah tidak asing lagi dengan program pengolah angka yang satu ini. Istilah-istilah seperti worksheet, formula, dan data filter tentu sudah akrab di telinga masing-masing. Perangkat lunak ini memang sudah seperti makanan sehari-hari. Mulai dari membuat form tagihan, membuat dokumen rekapitulasi, hingga menyusun laporan pun bisa dilakukan dengan memanfaatkan fitur-fitur yang terdapat Microsoft Excel. Tidak heran kalau banyak perusahaan yang mensyaratkan pelamar untuk mahir dalam mengoperasikan Microsoft Excel.

excel

 

 

 

 

  1. Dokumen tagihan, faktur pajak, dan laporan.

Proses pencatatan transaksi keuangan harus didasarkan pada bukti-bukti dan dokumen pendukung yang lengkap. Misalnya, invoice, faktur pajak, surat perjanjian atau kontrak, surat pernyataan bank, dll. Kalau ada dokumen yang kurang lengkap, maka pencatatan menjadi kurang valid dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Pegawai yang bekerja di bagian Akuntansi dan Keuangan harus mampu melakukan verifikasi dan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen yang diberikan kepada mereka. Selain itu juga harus kompeten untuk memastikan bahwa informasi dalam dokumen tersebut adalah benar dan sesuai dengan aturan yang berlaku

dokumen

  1. Telepon

Alat komunikasi ini sering dilupakan, padahal fungsinya cukup vital lho. Dalam mengumpulkan informasi keuangan, terkadang kita perlu menghubungi pihak ketiga seperti supplier, vendor, atau pihak bank. Sedangkan, sinyal telepon seluler terkadang tidak stabil sehingga tidak dapat digunakan untuk berkomunikasi. Pesawat telepon-lah yang bisa menjadi andalan di saat genting.

  1. Software sistem informasi akuntansi

Kalau Microsoft Excel bermanfaat untuk menyusun laporan, software akuntansi berguna untuk mengolah data-data transaksi yang masih mentah dan mengubahnya menjadi laporan keuangan utuh yang siap dipergunakan. Telah banyak perusahaan yang mengubah sistem pencatatan akuntansinya dari manual menjadi otomatis dengan bantuan software akuntansi. Selain karena hemat waktu, software akuntansi pun mempermudah proses pencatatan transaksi. Pegawai tidak perlu menghabiskan kertas dan alat tulis untuk menjurnal transaksi. Data yang telah diinput di sistem informasi juga bisa diakses kapan saja dan dimana saja. Praktis kan?

Itulah tadi serba serbi tentang pekerjaan saya sebagai Staf Akuntansi dan Keuangan. Bagaimana dengan pekerjaanmu?

 

(Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Menulis Artikel dengan tema Dunia Seputar Kantor dan Gedung Perkantoran yang diselenggarakan oleh Newman Pearsons, Maret-April 2020)

Iseng Bikin Dalgona Coffee

Pasti teman-teman semua udah nggak asing dengan minuman kopi yang satu ini. Yap, minuman yang terdiri dari susu full cream kemudian diberi busa kopi nan creamy ini memang lagi viral di media social. Dalgona Coffee sendiri berasal dari Korea Selatan. Konon awalnya kopi ini tercipta dari keisengan masyarakat Korea yang saat itu harus melakukan social distancing dengan tinggal di rumah saja akibat merebaknya wabah Covid-19. Mereka nggak tahu harus menghabiskan waktu melakukan apa, jadilah mereka membuat Dalgona Coffee.

Cara meraciknya memang mudah dan unik. Kopi hitam tanpa ampas diseduh dengan air mendidih kemudian diberi gula, lalu diaduk hingga berubah menjadi foam atau busa kaku yang berwarna coklat muda. Busa ini nantinya dicampurkan dengan segelas susu full cream dan es batu.

Lalu apa yang membuat Dalgona Coffee ini unik dan viral? Jawabannya adalah busa kopi. Untuk membuat busa kopi yang creamy, (katanya) dibutuhkan 400 kali adukan dengan menggunakan sendok atau whisk selama kurang lebih 15 menit. Namun, jika menggunakan mixer, hanya butuh waktu sekitar 3 menit.

Penasaran, saya dan suami pun ikutan nyoba bikin Dalgona Coffee. FYI, kita bikin dua kali percobaan lho saking niatnya. Karena malas repot dan takut tangan jadi pegal, kami pun menggunakan mixer.

-First trial
Seminggu yang lalu kami coba eksekusi Dalgona Coffee ini. Namanya juga iseng, jadi nggak ada persiapan khusus. Semuanya pakai barang sisa dan yang kebetulan nggak ada di lemari, kami beli di warung kelontong. Pada percobaan pertama ini kami pakai kopi indocafe coffemix yang mengandung krimmer dan susu ultra full yang plain. Pertama, 2 sachet kopi indocafe diseduh dengan (kurang lebih) 5 sendok makan air mendidih. Setelah itu kami tambahkan gula sebanyak 1 sendok makan (karena kopinya udah mengandung gula, jadi nggak kami tambahin lagi). Lalu campuran tersebut diaduk dengan menggunakan mixer berkecepatan tinggi

Hasilnya seperti ini :

WhatsApp Image 2020-04-19 at 10.46.51

Foamnya masih encer, tidak begitu creamy. Selain itu warnanya juga tidak mengalami banyak perubahan. Padahal sudah diaduk menggunakan mixer selama hampir 7 menit. Ternyata kopi yang digunakan haruslah kopi hitam tanpa campuran apapun, sedangkan kopi sisa yang kami gunakan waktu itu adalah kopi yang mengandung krimer. Jadinya gagal deh. Walaupun sebenarnya rasanya cukup enak dan tidak terlalu pahit. Pas untuk yang nggak terlalu doyan kopi. Mirip-mirip es kopi gula aren.

-Second trial.
Setelah mengetahui tips dan triknya, kami pun memutuskan untuk akan mencoba lagi tapi dengan menggunakan kopi hitam merek Nescafe seperti yang direkomendasikan netizen. Kebetulan, sepupu saya yang penikmat kopi kemarin main ke rumah dan membawa kopi hitam Nescafe dari kantornya. Kami pun memutuskan untuk nyoba lagi bikin Dalgona Coffee, karena ternyata dia juga belum sempat nyobain. Caranya sama persis seperti di percobaan pertama, hanya saja takaran air dan gulanya disesuaikan. Kurang lebih takarannya jadi 1:1 atau 1:2.

Jadi, 1 sendok makan kopi = 1 atau 2 sendok makan air mendidih. Kemarin kami menggunakan 2 sendok makan kopi, 1 setengah sendok makan gula dan 4 sendok makan air mendidih. Susu yang kami gunakan adalah susu cair Frisian flag rasa full cream.

Hasilnya? Voila, hanya dalam waktu kurang lebih 3 menit, kopi berubah warna dan teksturnya menjadi lebih creamy dan kaku. Sesuai dengan tekstur asli Dalgona Coffee!.

(bisa dilihat kan perbedaannya)

Ternyata rahasianya memang ada di kopi yang digunakan. Kalau bisa jangan yang ada ampas dan campuran bahan lainnya ya. Oh ya, gula bisa ditambahkan sesuai selera. Saya sendiri lebih suka yang agak manis, jadi gulanya saya tambahin hehe.

Nah itu tadi keisengan kami membuat Dalgona Coffee saat #dirumahaja. Mau ngaduk pakai sendok, whisk, atau pun mixer, sah-sah saja.

Yang Telah Pergi dan Berlalu

tertegun harap di batas angan
tak kuasa menahan waktu yang berjalan
tak mampu menjemput rasa di penantian
hanya tersisa secawan kenangan
yang gegap gempita dalam khayalan
berlarian enggan berhenti
berkecamuk dalam sunyi
bergema riuh mengisi hati
samar berbisik ingin kembali
meski hilang lebur ditelan nyata
karena dunia kita kini telah berbeda melahirkan rindu di sudut jiwa
menjelma hampa yang lirih terasa.

Maret 2020

8 Tips Mudik Bareng Balita

Momen Idul Fitri selalu jadi momen yang menyenangkan setiap tahunnya. Pasti nggak sabar rasanya untuk mengisi liburan dengan berkumpul bersama kerabat, pergi ke tempat wisata, serta beragam aktifitas seru lainnya. Buat para perantau, mungkin kegiatan mudik jadi yang paling ditunggu

Meskipun Lebaran memang masih 2 bulan lagi, tapi
nggak ada salahnya kalau persiapan mudik dicicil dari sekarang. Terutama buat perantau yang akan mudik bersama balita dengan kendaraan pribadi, tentunya persiapan yang dilakukan harus lebih matang. Secara, balita butuh perawatan dan pengawasan khusus. Belum lagi kalau rewel, sakit, dll.

Nah kali ini saya akan berbagi tips khusus buat para mamah dan papah muda yang mau mudik bersama balita

1. Siapkan tas khusus untuk si kecil
Pisahkan tas yang akan digunakan untuk membawa barang-barang si kecil. Misalnya, 1 tas untuk baju, 1 tas untuk perlengkapan makan, dan 1 tas untuk mainan favorit. Jadi, kita ngga akan kesulitan untuk mencari barang-barang tersebut saat dibutuhkan

2. Gunakan baju yang nyaman
Selama perjalanan, usahakan si kecil selalu merasa nyaman agar ia tidak rewel. Salah satunya adalah dengan memakaikan dan membawakan baju ganti yang nyaman. Segera ganti pakaian jika si kecil berkeringat. Jika mudik ke tempat dingin, jangan lupa bawakan jaket/mantel ya

3 Bawa mainan dan buku favorit
Perjalanan jauh bisa membuat si kecil bosan. Jangankan si kecil, kita saja yang orang dewasa bisa bosan saat harus melakukan perjalanan jauh. Untuk mencegah si kecil bosan dan rewel, bawalah beberapa mainan atau buku kesayangan si kecil.

4. Bawa bekal yang cukup
Siapkan makanan kesukaan si kecil supaya asupan gizinya tetap terjaga selama di perjalanan. Misalnya, biskuit, roti, atau potongan buah-buahan. Letakkan di tempat yang mudah dijangkau ya.

5. Istirahat
Perjalanan mudik ke kampung halaman tentu cukup melelahkan, apalagi kalau jaraknya jauh. Nah, agar tubuh tetap prima dan konsentrasi tetap terjaga, jangan lupa untuk beristirahat setiap 2-3 jam sekali. Kalau jarak kampungnya lebih dari 12 jam perjalanan, mungkin bisa dipertimbangkan untuk bermalam di penginapan lalu melanjutkan perjalanan keesokan harinya

6. Siapkan kotak P3K
Kita ngga akan tahu apa yang akan terjadi di perjalanan. Bisa saja kondisi tubuh tiba2 menurun. Untuk mengantisipasinya, siapkan kotak P3K berisi obat-obatan sederhana dan kain kasa serta plester luka. Ingat, sedia payung sebelum hujan.

7. Berangkat di pagi/siang hari.
Hal yang satu ini sering ketinggalan dalam rencana perjalanan kita. Kelihatannya sepele, tapi banyak keuntungan yang didapatkan jika memulai perjalanan di pagi atau siang hari. Diantaranya stamina yang masih bugar dan fokus yang masih terjaga, serta kita bisa melihat pemandangan-pemandangan yang mungkin jarang ditemukan di kota besar.

8. Berkendara sesuai aturan
Terakhir, berkendaralah dengan kecepatan yang sesuai dan tidak melebihi batas yang ditetapkan. Utamakan kenyamanan dan keamanan sehingga kita bisa selamat sampai tujuan.

Itu tadi beberapa tips mudik bareng balita yang bisa saya share. Semoga bermanfaat ya. Selamat mudik!

Cerita Mudik Part 2 : Review La Famille Villas-Hotels-Apartments Jepara

Akhirnya nemu juga waktu yang tepat untuk nulis artikel lanjutan dari postingan sebelumnya (cerita mudik part 1). Jadi, artikel ini merupakan artikel bersambung yang pertama kali saya buat. Awalnya mau bikin satu artikel, tapi kok panjang banget. Alhasil saya putuskan untuk dijadikan dua postingan yang berbeda.

Nah di postingan kali ini, saya akan menceritakan pengalaman menginap di La
Famille , Jepara. Seperti apa sih? Check this out.

1. Harga kamar
Selain harganya sesuai budget, letaknya juga tidak jauh dari pusat kota. Hal tersebut menjadi alasan utama saya dan suami memilih La Famille sebagai tempat menginap saat mudik ke Jepara, Jawa Tengah pada Lebaran tahun 2019 yang lalu. Sebenarnya sih ada beberapa pilihan hotel lain yang sesuai dengan preferensi yang kami buat. Namun sayangnya, hotel-hotel tersebut sudah full booked untuk tanggal yang kami jadwalkan. Padahal, kami melakukan reservasi sejak jauh hari (sekitar 1,5 bulan sebelum Lebaran). Akhirnya pilihan pun jatuh pada La Famille. Kami melakukan reservasi melalui situs Agoda.com. Rate per room yang kami dapatkan sekitar 550 ribuan untuk 1 malam, sudah termasuk breakfast.

2. Lokasi dan konsep hotel
La Famille terletak tidak jauh dari Pantai Teluk Awur. Kurang lebih hanya 5 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor. Hotelnya berada sekitar 300 meter dari pinggir Jalan Raya Kedung-Jepara, Karangkebagusan. Konsepnya sendiri menyerupai family homestay yang terdiri dari beberapa paviliun bergaya campuran Jawa-Eropa. Paviliun-paviliun tersebut diberi nama sesuai dengan ibukota-ibukota negara yang ada di benua biru. Saya sendiri waktu itu menginap di paviliun Berlin

WhatsApp Image 2020-03-08 at 00.13.43

3. Fasilitas
Seperti hotel dan penginapan pada umumnya, La Famille menyediakan berbagai fasilitas untuk para pengunjung seperti kolam renang, tempat parkir, taman, dll. Kolam renang di La Famille berukuran sedang dan dikelilingi oleh paviliun-paviliun. Tempat parkirnya cukup besar untuk menampung (maksimal) 8-12 mobil. Saat saya kesana, tampaknya pihak manajemen sedang melakukan revitalisasi kantong parkir. Terdapat juga taman mungil yang cukup instagramable untuk berfoto. Butuh jaringan internet agar tetap terkoneksi dengan teman atau saudara? Tenang aja, La Famille juga menyediakan fasilitas WiFi yang menjangkau semua paviliun.

4. Kamar atau paviliun
Awalnya saya mendapat paviliun (saya lupa namanya) yang terletak tepat di sisi kiri pintu yang membatasi lokasi parkir dan komplek paviliun. Untuk mencapai kamar di paviliun tersebut, kami harus menaiki tangga kayu. Namun, belum sempat tidur disana, saya ditawarkan untuk pindah ke paviliun lain yang letaknya dibawah. Tentu saya tidak menolak tawaran tersebut karena paviliun yang ditawarkan letaknya lebih dekat dengan pintu masuk dan kolam renang. Kami juga tidak harus menaiki tangga untuk sampai disana. Jadilah kami pindah ke paviliun Berlin.
Interior paviliunnya bergaya Eropa klasik. Didalamnya terdapat dapur kecil yang dilengkapi dengan kulkas, kamar mandi dengan shower dan ammenities, serta kamar tidur dengan perabot seperti televisi, lemari, sofa, rak untuk menaruh barang-barang. Ukuran paviliunnya cukup besar jika dihuni oleh 2-3 orang. Kamarnya pun nyaman
dengan pencahayaan yang cukup. Homey and clean deh pokoknya.

WhatsApp Image 2020-03-08 at 00.13.50 (2)
ruang televisi

5. Sarapan

Sesaat setelah kami tiba di paviliun, pihak manajemen menginformasikan hal-hal penting yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah sarapan, karena kamar yang kami pesan sudah termasuk sarapan. Ternyata untuk menu sarapan, terdapat 3 pilihan menu. Waktu itu pilihan yang tersedia adalah nasi goreng, mie goreng, dan sandwich, saya sendiri memilih nasi goreng. Cukup surprised dan excited karena nasi gorengnya ternyata enak dan ada pelengkap hidangan berupa buah manga dan orange juice. Oh iya, karena saat itu juga masih bulan puasa, pihak manajemen La Famille menginformasikan bahwa mereka tidak menyediakan menu sahur.

WhatsApp Image 2020-03-08 at 00.14.07
bonus Said yang pagi-pagi udah nongkrong di pinggir kolam

Overall, kami cukup puas dengan pelayanan yang diberikan La Famille. Hampir tidak ada kendala yang kami rasakan saat menginap disana selama 4 hari 3 malam saat peak season. Hanya saja, pihak manajemen sebaiknya perlu memperbesar plang/rambu penunjuk arah menuju hotel. Kami sempat hampir kelewatan karena plang nama La Famille kurang terlihat saat malam tiba.

Bagi teman-teman yang berencana liburan ke Jepara bersama keluarga, La Famille patut dijadikan referensi untuk tempat menginap.

Review 7 MPASI Instan

punya anak balita memang seru ya buibuk. Kinda tricky and challenging at the same time. Segala kebutuhannya memerlukan perhatian khusus. Apalagi kalo ngomongin tentang asupan gizi alias makanan dan minuman untuk balita, bakalan jadi topik yang menarik. Nah, kalau postingan sebelumnya saya sudah mengulas tentang asi booster (review asi booster), di postingan ini saya akan mengulas tentang MPASI Instant yang pernah dikonsumsi sama Said.

Soal MPASI Instant ini memang masih menimbulkan perdebatan. Beberapa orang ada yang saklek banget nggak mau ngasih anaknya MPASI Instan, karena mungkin identik dengan bahan pengawet, pewarna dll. Kalau saya sendiri bukan tipe yang idealis harus ini harus itu, termasuk urusan per-MPASI-an.

Ketika situasinya lagi nggak memungkinkan untuk bikin makanan rumahan buat Said, ya saya pilih MPASI Instan sebagai alternatif. Kepraktisan menjadi alasan utama saya dalam memilih MPASI Instan.

Trus, MPASI Instan apa aja yang pernah dicoba?

1. SUN Bubur Bayi Instant (6-24 bln)
Ini adalah MPASI instant pertama yang saya coba kasih ke Said. Varian rasa yang saya beli waktu itu adalah beras merah. Rasanya dominan manis. Teksturnya sendiri menurut saya agak susah diblend. Cenderung menggumpal. Agak kurang cocok di Said yang waktu itu masih umur 6 bulan. Pas pertama kali saya kasih, doi sempat muntah karena teksturnya kurang halus walaupun udah dikasih air. Akhirnya saya bikin agak encer, biar bisa kemakan. Pilihan rasanya ya seperti bubur bayi pada umumnya, beragam.

2. Nestle Cerelac (6-24 bulan)
Bubur bayi instan kedua yang saya ujicobakan ke Said (maaf ya nak jadi kelinci percobaan). Sama seperti SUN, varian yang dicoba waktu itu beras merah. Rasanya juga manis, tp lebih light. Teksturnya juga lebih gampang diatur. Alhamdulilah Said lumayan cocok. Hampir ga pernah dimuntahin. Kecuali yang rasa kacang hijau, doi kurang suka.

3. Milna WGAIN (6-24 bulan)
Nggak sengaja nemu ini di Carrefour ITC BSD, lalu baca ulasannya dan ternyata dibuat untuk membantu menaikkan berat badan bayi. Pas banget saat itu Said sempat nggak stabil berat badannya. Akhirnya saya iseng beli yang rasa Ayam Bayam. Alhamdulilah Said suka. Rasanya cenderung gurih. Dari sini juga saya jadi tau kalo Said lebih suka makan makanan yang rasanya gurih dibanding manis. Tekstur Milna ini juga cocok di Said. Bisa dibikin padat ataupun agak encer. Alhamdulilahnya lagi juga betul bisa membantu menaikkan berat badan. Pilihan rasanya cuma 2, ayam bayam dan ayam sayur.

4. Promina Bubur Tim (8-24 bln)
Suami iseng beli karena ada diskon. Untung cuma beli 1 karena ternyata Said kurang suka. Teksturnya pun agak terlalu kasar untuk Said yang pada waktu itu berusia 8 bulan lebih dikit dan belum tumbuh gigi. Rasanya sendiri lebih gurih dari Milna.

5. Promina Homemade (8-24 bln)
Bubur instan ketiga yang cocok di Said. Teksturnya pas. Rasanya juga gurih tapi light. Cara membuatnya sedikit berbeda dengan bubur bayi instan lain. Kalau bubur lain cukup diseduh dengan air panas Promina Homemade ini harus dimasak dulu dalam panci selama 10 menit, sesuai namanya yang menggunakan istilah ‘homemade’
Sampai sekarang Said berusia 1,5 tahun, saya kadang nyetok Promina buat jaga-jaga. Tersedia dalam 2 rasa, ayam brokoli dan salmon kentang wortel

WhatsApp Image 2020-02-29 at 23.52.45

6. Promina Nasi Tim 1+ (1 th keatas)
Seperti namanya, Promina Nasi Tim ini dimasak dengan cara di tim selama 15 menit. Tekstur dan rasanya hampir sama dengan Promina Homemade. Said lumayan suka. Tapi agak susah nyari di supermarket.

7. Promina Sup Mi (1 th)
Penasaran karena namanya unik. Ternyata cara bikinnya kayak mi instan. Rasanya gurih tapi light. Sayangnya said kurang suka.

WhatsApp Image 2020-02-29 at 23.52.00

Itulah tadi beberapa ulasan tentang MPASI Instan yang pernah saya coba.
Setiap orangtua tentu memiliki alasan tersendiri dalam memberikan makanan/minuman untuk pertumbuhan anaknya. Begitupun dalam memilih MPASI. Instan ataupun buatan sendiri seharusnya disesuaikan dengan kondisi anak kita. Asalkan dibuat sesuai petunjuk dalam kemasan, dan diperhatikan kebersihannya. Semoga ulasan ini bermanfaat.

Salam,
Ira

(Review Novel) Kim Ji-yeong : Lahir Tahun 1982 – Perempuan Juga Manusia

WhatsApp Image 2020-02-22 at 23.38.14

Setiap manusia, baik laki-laki ataupun perempuan, tentu memiki impian dan cita-cita yang ingin dicapai dalam kehidupannya. Berbagai usaha dilakukan agar impian dapat terwujud. Namun bagaimana jika usaha untuk mewujudkan mimpi ternyata terhalang oleh jenis kelamin? Bagaimana jika ada ketidakadilan yang terjadi dalam tatanan masyarakat–khususnya kepada perempuan?

Konsep kesetaraan gender sebenarnya sudah digaungkan sejak lama. Namun di beberapa tempat di dunia, ketidakadilan terhadap salah satu gender masih banyak ditemukan. Salah satunya di Korea Selatan.

Bercerita tentang Kim Ji Yeong, seorang istri sekaligus ibu dari anak perempuan bernama Jeong Ji Won. Ia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga setelah melahirkan putrinya.

Kehidupan rumah tangga Kim Ji Yeong dan suaminya, Jeong Dae Hyeon dapat dikatakan harmonis. Kondisi finansial keluarga ini juga baik dan nyaris tanpa masalah, meski hanya Jeong Dae Hyeong yang bekerja. Sehari-hari, Jeong Dae Hyeon bekerja di kantor, sedangkan Kim Ji Yeong di rumah mengasuh Jeong Ji Won dan mengurus rumah.

Tanpa disadari, perubahan rutinitas tersebut membuat Kim Ji Yeong jenuh. Ia merasa kehilangan semangat dan jati dirinya. Ia pun mencoba menceritakan apa yang ia rasakan pada sang suami. Namun jawaban yang didapatkan kurang memuaskan. Hingga suatu ketika, Kim Ji Yeong mulai bertingkah aneh. Pada saat tertentu, ia bersikap tidak seperti biasanya, ia seolah ‘berubah’ menjadi orang lain.

Jeong Dae Hyeon mulai cemas dengan perilaku Kim Ji Yeong yang berubah. Apa yang sebenarnya terjadi pada sang istri dan apa penyebabnya?

Pertanyaan tersebut pun menjadi pembuka dari rangkaian cerita tentang patriarki dan kesetaraan gender, yang menjadi isu utama dalam novel ini.

Sang penulis, Choo Nam Joo, berhasil memunculkan emosi saya saat membaca buku terbitan tahun 2019 ini. Setiap membaca satu halaman, rasanya seperti melihat realita kehidupan perempuan–tidak hanya di Korea– yang dikumpulkan lalu dibukukan. Beberapa bagian tampak begitu nyata dan lazim ditemukan.
Misalnya saat Kim Jim Yeong remaja diikuti oleh pemuda tak dikenal yang kemudian menggodanya saat ia pulang dari kursus. Pada bagian tersebut, Kim Ji Yeong ketakutan hingga menelpon ayahnya untuk menjemputnya. Namun setelah itu sang ayah justru menyalahkannya karena dianggap pulang terlalu malam. Atau pada saat Kim Ji Yeong tidak dimasukkan ke tim perencanaan di kantornya karena dia perempuan, meskipun kinerjanya baik.

Tidak hanya melalui adegan kehidupan sehari2, Choo Nam Jo juga memaparkan data statistik terkait dengan isu kesenjangan antar gender yang terjadi di negaranya, seperti selisih upah yang dibayar ke pegawai laki-laki dan perempuan, untuk memperkuat ide cerita dan menambah wawasan pembaca.

Selain dari segi cerita, yang membuat novel ini menarik adalah alur campuran yang digunakan, namun tidak membingungkan. Pembaca seperti diajak untuk ikut mengalami fase-fase kehidupan Kim Ji Yeong dari lahir pada tahun 1982, bersekolah, kuliah, hingga berkeluarga.

Sebenarnya masih banyak lagi realita yang digambarkan oleh Choo Nam Joo. Realita-realita tersebut sukses menghighlight budaya patriarki dan misogini yang ternyata masih kuat mengakar dalam konstruksi sosial masyarakat. Bahkan, di Indonesia sendiri kita sering mendengar selentingan kalau perempuan sebaiknya tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena hidupnya akan berkutat di kasur sumur dan dapur. Miris bukan?

Novel ini seperti membuka mata dan wawasan kita sebagai manusia, agar senantiasa bersikap adil kepada siapapun tanpa memandang gender. Pada bagian akhir bukunya, Choo Nam Joo juga seolah ingin menyampaikan pesan kepada kita khususnya kaum perempuan untuk terus memperjuangkan kebebasan dan kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Karena perempuan juga manusia.

Review ASI Booster Pilihanku

Bismillahirrahmanirrahim. Mari kita awali postingan perdana di 2020 ini dengan lafal basmalah. Akhirnya—setelah hampir 4 bulan nggak produktif ngeblog– , saya mencoba untuk kembali menulis. Jujur saja, proses adaptasi dengan kesibukan baru sebagai working mom ternyata cukup challenging. Jadwal kegiatan sehari-hari harus disusun ulang, termasuk jadwal untuk mengerjakan hobi dan kegemaran. Hehe. Saya nyaris lupa kalau punya blog, baru ingat setelah merasa “eh kok kayaknya ada yang hampa ya?”

Perasaan itulah yang membuat saya memutuskan untuk kembali (dan semoga konsisten) jadi blogger.

Nah, kali ini saya akan membuat review tentang ASI Booster yang pernah saya konsumsi saat Said masih ASI Eksklusif (sekarang Said udah 1 tahun 5 bulan, makanannya udah macem-macem).
MengASIhi memang tidak mudah dan penuh drama, bukan begitu Bu Ibuk? *kedipkedipnyaritemen*

Adaaaa aja masalahnya. Mulai dari ASI yang nggak mau keluar, ASI seret, bayi bingung puting, puting lecet, dll. Busui pasti udah akrab sama masalah-masalah yang saya sebutkan tadi. Yang paling sering dikeluhkan sih ASI yang tidak lancar atau seret. Bikin stress. Padahal katanya stress juga akan mempengaruhi produksi ASI. Kalau produksi ASInya sedikit, otomatis akan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan bayi. Nah lho.

Luckily, produksi ASI bisa ditingkatkan dengan berbagai cara. Selain yang utama adalah dengan menyusui bayi secara langsung (direct breastfeeding), juga dengan mengkonsumsi makanan, minuman atau suplemen yang mengandung zat untuk memicu hormon oksitosin, yaitu hormon yang membantu produksi ASI dalam payudara.
Lalu, makanan, minuman, dan suplemen apa aja sih yang bisa membantu melancarkan ASI? Jawabannya : banyaaaaaaak. Yang tradisional hingga yang jaman now pun ada. Berikut adalah review singkat beberapa makanan dan suplemen pelancar ASI yang pernah saya coba.

1. Sayur daun katuk.
Well, ini legendaris dan sudah menjadi tradisi turun temurun ya di kalangan para wanita. Sejujurnya, saya nggak terlalu suka dengan rasanya yang typical sayur mayur gitu. Berbau. Tapi kalau dicampur dengan sayur lain rasanya jadi lumayan enak, kayak jagung misalkan. Kalau di saya cukup berpengaruh bikin ASI jadi lebih kental. Dimakan setiap hari, pagi siang dan sore.

2. Susu almond
Menurut saya, inilah ASI booster yang rasanya paling enak. Tau tentang susu almond ini dari akun Instagram @ibupedia . Karena katanya produk kacang-kacangan bagus untuk melancarkan ASI. Sempat khawatir karena ada susunya, secara dulu Said sempat divonis ada kemungkinan alergi susu sapi. But surprisingly, susu almond nggak mengandung susu sapi. Jadi pakai krimer nabati gitu. How’s the taste? Kayak susu biasa, tapi ada aroma almondnya. Alhamdulilah, cukup berpengaruh untuk mempercepat let down reflex pada payudara. Aliran ASI jadi lebih cepat. Diminum 1-2 botol perhari. Sayangnya, kalau yang kemasan cair gini, harus segera dihabiskan. Paling lama sih 2-3 hari di kulkas. Banyak yang jual di Instagram, Shopee, dll. Kalau saya sendiri beli di susualmond_almendra
20190104_17582520190104_175848

3. Susu almond bubuk.
Nah kalau susu almond yang ini harus diseduh dulu. Kayak bikin susu. Menurut saya rasanya nggak seenak yang kemasan botol. Entah kenapa kurang suka teksturnya juga. Diminum 1-2 sachet per hari. Unfortunately, nggak berpengaruh apa-apa untuk produksi ASI saya. Pilihan merknya banyak. Di supermarket pun ada, tapi waktu itu saya beli di @alamond_official

4. Molocco B12
(katanya) sih mengandung placenta sapi. Tapi nggak tahu juga ya ingredientsnya seperti apa. Bentuknya kapsul suplemen gitu. Diminum 3x sehari. Sayangnya juga ngga berpengaruh signifikan di saya. Bisa dibeli di apotek-apotek besar semacam Kimia Farma atau K24

5. Fitma Soya Cereal
ASI Booster jaman now. Hehehe. Fitma ini produksi lokal lho. Saya dapat info ini juga dari Instagram. Praktis sih, tinggal diseduh dengan air hangat. Udah gitu lumayan ngenyangin. Rasanya juga enak dan bervariasi. Mirip kayak susu kedelai tapi nggak dominan. Mengandung bahan-bahan yang bermanfaat untuk melancarkan produksi ASI (daun katuk, gandum). Biasa dikonsumsi 2-3 sachet per hari. Kalau di saya, Fitma lumayan bermanfaat buat menjaga supaya ASI tetap ngalir. Info lebih lengkapnya bisa dicek di @fitma.id

20190118_07311120190118_073117

6. Mama Bear Soyamix
Hampir sama dengan Fitma, hanya saja pilihan rasanya berbeda. Kalau Fitma pilihan rasanya ada coklat vanila dan stroberi, Mama Bear Soyamix tersedia dalam rasa pisang, melon dan coklat. Komposisi bahannya pun hampir sama. Tapi entah kenapa saya lebih suka rasanya Fitma sih. Hasilnya 11 12 dengan Fitma, untuk menjaga produksi ASI. Belinya di @mamabear_asibooster

WhatsApp Image 2020-02-15 at 12.12.01

7. Lactaboost
Kalau yang ini hampir sama dengan Molocco B12. Bentuknya kaplet suplemen. Baunya sedikit menyerupai jamu. Tiap kaplet mengandung 250 mg ekstrak daun katuk. Diminum 3x sehari. Hasilnya so-so sih kalau menurut saya. Bisa dibeli di swalayan atau apotek.

20190108_075916

ASI Booster mana yang jadi favorit saya? Susu almond cair dan Fitma. Enak dan ngenyangin! *dikeplak pembaca*
Tips dari saya dalam memilih ASI Booster adalah cari yang mudah dikonsumsi, memberikan hasil yang signifikan dan rasanya enak. Tapi, perhatikan juga ya kondisi bayi teman-teman pembaca, punya kecenderungan alergi atau tidak.
Anyway, produk-produk diatas mungkin bisa memberikan hasil yang berbeda buat orang lain. Memang harus dicoba satu persatu, agar bisa mengetahui mana yang paling cocok buat kita.
Semoga postingan kali ini bermanfaat 😊

Regards,
Ira.

Perjalanan

ular besi bergerak membelah malam
ribuan kepala turut di dalamnya
merebahkan jiwa-jiwa
menyandarkan sejenak hati yang dibawa
yang pernah terluka
yang memendam rasa
yang menggenggam cita
yang menahan rindu
ditemani derap roda yang beradu
sebagian mata terpejam
sebagian lagi memilih terjaga
meski diluar langit gelap tak berwarna
meski lelah perlahan terasa
sambil diam-diam berharap hal yang sama
ingin lekas tiba